RANA PENYANGKALAN ?




***

Keberhasilan atau kegagalan seorang lelaki 
bukan terukur dari seberapa hebat dia. Ia hanya perlu bangga pada dirinya sendiri atas keputusan yang ia buat tanpa intervensi dari siapapun

***


Lelaki itu isinya hanya tuntutan dan tanggung jawab, menggugurkan segala harapan untuk pertanggungjawaban. Lelaki itu diciptakan untuk disalahkan dan tempat terkumpulnya kesalahan. Isi otaknya hanya bulir-bulir lamunan dan secerca harapan. Dihidupkan dan dimatikan dalam keadaan sebagai penopang setiap permasalahan.

Lelaki itu diciptakan sebagai sebuah sandaran, penopang untuk segala kepala-kepala seberat batuan vulkanik yang diletuskan kapanpun ia mau. Tidak peduli seberat apa sedimennya. Yang terpenting amarahnya tersalurkan agar terlepas dari belenggu yang membebani. Lelaki itu dilarang melunakkan hati, sekali saja hatinya melunak kau takkan pernah dianggap sebagai seorang lelaki. 

Lelaki itu dilarang cengeng. Saat kecil ia terjatuh dari sepeda, lutut berdarah, siku memar. Tak sekalipun ibunya berkata ‘menangislah!’ tapi yang dikatakannya ‘Jangan menangis!, laki-laki kuat tidak boleh cengeng’. Saat bermain dengan kawan sejawat, memperebutkan mainan robot favoritnya. Dan lagi-lagi yang terdengar bukan ‘Menangislah!’, tapi ‘laki-laki kuat tidak boleh cengeng. pergi sana, rebut mainanmu kembali!’, yang tidak kita sadari, kita sudah terlatih untuk kuat dan berani  sejak kecil. Kata demi kata terdengar seperti tuntutan, menuntut apa yang menjadi hak kita dan menutut apa yang menjadi kewajiban. 

Jika sudah sedari kecil lelaki itu dididik sedemikian rupa, sekeras apa hati lelaki. Akankan sekeras fosil yang mengendap ratusan juta tahun di dalam tanah. Sederas apa air mata lelaki, akankah sederas hujan pertama pada awal musim. Tidak ada yang pernah tau. Lelaki itu menimbun keriuhannya dalam diam dan tawa. Kepalanya begitu berisik, kau tambah lagi dengan kebisinganmu, seolah apa yang kau mau tidak pernah terpenuhi. 

Lelaki itu lupa cara menenangkan diri, bahkan ia lupa kapan terkahir isi kepalanya begitu tenang, ia lupa kapan terakhir kali hatinya begitu teduh. Ia terlalu sibuk dengan bagaimana cara membahagiakan orang-orang di sekitarnya, tapi lupa bahagia dan menikmati hidup. Yang ia miliki hanya rasa takut. Takut beranjak dan terjebak di zona nyaman. Ketakutan menjadikan kita membuat pilihan-pilihan yang konservatif, mengenyangkan ego dengan keputusan-keputusan yang dianggapnya sudah benar. 

Jadi apa yang kau pikirkan tentang lelakimu saat ini, tidakkah kau cukup bersyukur tanpa membanding-bandingkannya dengan lelaki lain yang terlihat perkfeksionis dalam laman sosial media. Lelakimu tidak pernah menyesal telah atau pernah memilihmu sebagai bagian dari hidupnya. Kau tidak perlu meyakinkan apakah ia sungguh-sungguh mencintaimu seutuhnya, yang perlu kau yakinkan adalah isi pikiranmu sendiri. Otak dan hati lelaki tidak pernah merasa ‘sinkron’. Ajaklah ia berdiskusi untuk meyatukan antar dua pemikiran. Peluklah ia dengan hangat, agar hati dan perasaannya sedikit tenang. Setenang saat ia menyendiri dan memikul segala sesuatunya sendirian. 

Tidakkah itu lebih mudah dilakukan, ketimbang kau dihajar oleh penyesalan, dihujani tangisan, isi kepalamu dipenuhi ratapan, ketika suatu saat lelakimu pergi tanpa sepatah kata untuk berpamitan.

***

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer