BIAS LANGKAH (Rewrite)



***

Berbagai macam cara untuk menyenangkan hatimu, tatkala aku mempertaruhkan seluruh waktu yang ku punya. Takkan mempan untuk hati sekeras itu, kau tetap dengan pendirianmu. tekad yang membulat layaknya sebuah bola, lalu kau tendang jauh ke antah berantah. 

Meyakinkan perasaan nampaknya bukan keahlianku, sebuah kalimat yang terdengar familiar, namun kali ini nyata, “maaf, sepertinya kita cukup sampai disini”. aku pikir hari ini tidak mendung sama sekali, kenapa ada tetesan air. Ah sudah lah, mungkin hanya perasaanku saja atau mungkin memang turun hujan tapi bukan dari langit.

Kamipun saling terdiam, menunduk entah melihat apa. sesekali mata kita saling menatap, namun yang dirasa mata kita bertemu hanya untuk saling meratap. Berakhirnya sebuah komitmen tanpa sebuah alasan jelas. Malam itu, Arutala nampaknya juga enggan melihat situasi seperti ini. Aku pun. 

Aku merasakan tetes cairan menyentuh kulit, yang memang  bukan satu atau dua bulir. Ku kira tetesan air hujan, bukan, itu air matamu yang jatuh yang terlihat miris. Tetes demi tetes berjatuh, untuk perasaan yang gundah, Bukan hanya separuh yang tak utuh. Tahu itu tangisamu, aku rapuh. 
Ingin sekali aku mengusap derasnya hujan kesedihan, agar kau tak banyak keperihan. 

Aku relakan bahuku untuk kepalamu yang terakhir kali, walaupun perih sampai ke rongga hati. Menghujam, menusuk, mengoyak tanpa henti. Tak terasa mataku mulai mendung, pandanganku mulai kabur. Kumpulan bulir air mata yang tak kuat aku bendung. Sesakku semakin klimaks, mengingat seperti baru saja aku mengenalmu seling beberapa bulan aku menjadi pasanganmu. Namun waktu siapa yang akan tahu, dan seperti apa akhir dari waktu. 

Yang diketahui manusia, waktu hanya serangkaian angka dengan hari, bulan dan tahun di dalamnya. Seolah tak mau tahu esensi waktu, jika saja bisa mengatur waktu, kebanyakan darinya ingin mengulang apa yang indah dan melewati apa-apa saja yang tidak ingin dilaluinya. Termasuk aku, dengan situasi ini.

Pulang adalah kata yang tepat untuk mengakhiri semua kekacauan ini. Sebelum itu, ijinkan aku menyelipkan jari-jariku ke dalam jemari tanganmu beberapa saat, lalu telungkupkan tanganmu akan aku beri sesuatu untukmu. Sebuah cenderamata yang harusnya kusematkan pada jari manismu saat berbahagia namun harus rela terpasang, menerobos sela-sela jemarimu, yang secara bersamaan mengoyak hati. Rasanya ingin saja disudahi.

Pintaku sederhana, simpanlah cenderamata ini, sampai pada saatnya kau tau harus apakan benda itu setelah semua baik-baik saja. Karena cinta tak melulu tentang masa lalu, kau pun harus bisa maju. Mengubur mimpi-mimpi lamamu dengan segudang mimpi-mimpimu yang baru, beriringan dengan setiap peristiwa yang mendewasakanmu, biarkan aku menikmati kesendirian dengan kegilaanku. 

Kau berjalanlah, melangkahlah maju jauh di depan sana dengan lelakimu. Mencintaimu dengan setiap lapis ketulusan hatinya, sampai pada akhirnya kau pantas dipersunting olehnya. Malam terlalu sering menjadi saksi bisu tentang cinta yang sekarat. Kepulan asap penyesalan penuhi setiap sudut ruang, dengan sedikit rasa pahit yang terkenang. Tak kuhiraukan dinginnya angin malam menusuk tulang, memutar tembang lagu melankolis dari penyanyi legendaris Bryan Adams-(Everything I Do) I Do It For You menjadikan malamku semakin sendu. 

***

Masuk bulan berikutnya, Aku ingin berhenti dengan ini semua namun pikiranku tak terima hatiku tak setuju. Lupakan kejadian malam itu, yang ada kepalaku terasa ramai dan semakin rusuh. Ku putuskan tancap gas, mengelilingi kota dan pergi ke sudut-sudutnya. Sampai pada tempat dimana seharusnya kebanyakan orang singgah untuk sekadar bercengkrama, mengadu cerita tentang rutinitasnya, atau hanya sekadar memamerkan pencapaiannya. 

Sebuah kedai kopi yang biasa aku datangi ketika merefresh pikiran untuk sejenak. Kopi filter yang biasanya dibuat lebih pekat, supaya pahitnya ikut melakat dengan kepahitan-kepahitan lain. Mengajarkan hal sederhana bahwa cukup dengan satu biji kopi bisa menciptakan rasa pahit apalagi dia yang seonggok daging yang tumbuh dewasa. Dibekali pikiran dan rasa. Tapi aku ragu apa benar ia sudah cukup intuitif dan berperasa. Aku rasa tidak. 

Keputusanmu mengakhiri petualangan ini sudah menjadi sebuah inti atom dari makna pahit itu sendiri. Hei kahwa, Temani malamku, hangatkan aku, basahi tenggorokanku, usirlah kantukku, buang jauh-jauh kepeninganku dengan segala sakit yang terpatri dalam hatiku. 

***

Komentar

Postingan Populer