SEMOGA TUMBUH BUNGA DIANTARA RETAKMU
***
***
Hal pertama yang terbesit di kepalaku tentu saja keinginan membuat perpisahan sebaik mungkin, meskipun sadar bahwa sebaik-baik perpisahan tetaplah buruk. Nyatanya perpisahan tetaplah perpisahan, tidak ada yang menjadikan perpisahan untuk tetap baik-baik saja. Perlu waktu mereda, agar setiap sakit akan sembuh pada realita berikutnya.
Romansa yang kita pikir seperti drama-drama korea tidak berjalan semestinya, malahan kau jadi hilang arah dan menghentikan rotasi semestanya. Mulai kehilangan makna dan menstigmakan apa yang tidak seharusnya. Keyakinan yang mulanya utuh sampai pada tiap detiknya kian runtuh. Menjadikan nikmat rasa itu harus punah, beberapa memori juga harus musnah. Selayaknya rindu juga menjadikannya terkubur dalam-dalam mengubahnya menjadi sebuah tanda tanya. Setiap angan diterbangkan oleh angin dan satu-satunya yang harus digenggam adalah keteguhan hati ini sendiri.
Bagaimana rasanya menjadi epilog tanpa prolog ? hanya menunggu untuk sebuah kepastian, namun terkadang perihal yang ditunggu tidak seperti yang dibayangkan dan menyuguhkan sebuah kekecewaan. Bagaimana tidak, mencoba meyakinkan isi hati seseorang yang adalah hal paling rumit, sampai-sampai menipu pikiran sendiri untuk hal yang sudah tahu akan sia-sia. Ketika jatuh cinta, kau dan pikiranmu adalah penipu ulung, memutarbalikkan fakta menjadi sebuah pembodohan. Padahal, kau sendiri menjadi korban pembodohan.
Beberapa kisah juga tidak sama seperti cerita orang-orang yang bertebaran di laman sosial media. Banyak yang diisi dengan canda dan tawa ketika bahagia namun tidak dengan kesedihannya. Beberapa dari mereka juga memiliki hak atas siklus kehidupannya sendiri termasuk soal perasaan. Karena setiap orang punya hal kecil yang memiliki makna besar dalam hidupnya dimana ia akan menanam perasaan kepada orang lain, lalu berbunga, lalu gugur dan patah. Diantara tanah-tanah yang mulai retak, daun-daun dan bunganya kemudian mereka bangkit dan tumbuh seakan menjadi kehidupan yang baru. Padahal ia hanya berubah untuk tidak tetap menjadi dahan patah dan daun kering yang tersapu angin.
Tidak semua bahagia bisa kau dapatkan sesuai dengan ekspektasimu, terkadang sebagian bahagia itu datang dengan cara yang berbeda, termasuk dengan mengikhlaskan. Kau tidak memiliki hak atas dirinya, kau juga tidak memiliki kewajiban atas keyakinan bahwa ia akan menjadikanmu bunga yang tumbuh. Kau hanya menjadi tempat singgah, bukan rumah yang ditinggali bersama sampai menua. Kau tempat singgah yang tak sungguh baginya.
Kau tidak harus memaksakan keyakinan seseorang terhadapmu, percayalah sesuatu yang berlebihan akan ada konsekuensi yang keterlaluan. Mempertaruhkan kerasionalan demi mengenyangkan ego menjadikan semua yang kau lalui hanya sia-sia. Setidaknya kau pernah mencoba apa yang kau yakini. Dan kau jangan pernah merasa gagal atas apa yang kau jalani, percayalah kegagalan adalah sebuah jalan bagimu untuk mencapai apa yang kau butuhkan. Kau juga butuh menjadi sesesorang dikasih sayangi oleh orang-orang yang kau cintai selama ini.
Tubuh-tubuh tanaman yang berguguran dan patahpun pada waktunya akan beregenerasi menjadi tanaman yang lebih indah nan cantik. Memperbarui apa yang telah usang dari musim ke musim. Selayaknya kau, kau perlu tumbuh menjadi seseorang yang mampu kembali utuh dari retakmu, bermekaran pada setiap senyummu, harum pada setiap embus nafas yang kau beri pada cintamu kelak. Semoga aku pun sama.
***

sangat the best
BalasHapus