KADE (TEMPAT BERLABUH)


***

"Untuk mereka yang patah hati—percayalah, perjalananmu akan selalu menemukan tempat untuk berlabuh".

***

Prolog

Hujan selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan Sena pada hal-hal yang telah pergi. Bunyi tetesnya mengetuk perlahan atap kosnya, dingin yang menyelinap lewat celah jendela, petrikor yang menyeruak setiap kali pintu dibuka—semuanya terasa seperti kenangan yang menolak lupa.

Malam itu, Sena duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar pada dinding kusam. Ponsel tergeletak di lantai, layarnya mati, namun bayangan nama yang tertera beberapa jam lalu masih terpatri jelas di kepalanya. 

'Ara', nama itu seperti kade kecil di dadanya—tempat kapal kenangan pernah berlabuh dengan tenang, sebelum akhirnya dihancurkan dan ditenggelamkan ombak.

Patah hati. Dua kata yang sering terdengar sepele, namun mampu merobohkan bangunan kokoh bernama perasaan yang disusun bertahun-tahun. Sena mengembuskan napas panjang. Ia tidak menangis. Tidak berteriak. Hanya diam, dan membiarkan dadanya terbelenggu rasa sesak.

Malam itu adalah awal dari perjalanannya yang panjang menuju sebuah kade baru—tempat ia menemukan tempatnya untuk pulang.

Babak 1: Retak yang Tak Terlihat

Hubungan Sena dan Ara tidak pernah tampak bermasalah dari luar. Mereka pasangan yang sering dipuji: jarang bertengkar, saling mendukung karir, dan selalu tampak sejalan. Namun seperti kapal yang perlahan dimakan karat di bagian bawahnya, retakan itu ada—hanya tak terlihat.

Ara semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai akuntan sebuah perusahaan besar di ibu kota. Sena, pramusaji di sebuah kedai kopi, pekerjaannya shifting. Waktu mereka tak lagi sejajar. Pesan singkat menggantikan percakapan yang dahulunya intens. Panggilan video hanya terjadi jika salah satu rindu terlalu kuat. Kini mereka banyak menghabiskan percakapan daring.

“Maaf ya, Na. Aku lembur lagi,” kata Ara suatu malam.

Sena tersenyum, meski senyum itu tak pernah sampai ke matanya. “Nggak apa-apa. Jaga Kesehatan, banyak minum air putih.”

Kalimat itu ia ucapkan terlalu sering, sampai akhirnya terasa seperti sapaan kosong.

Retak itu semakin terlihart ketika mereka mulai membicarakan kemana hubungan mereka akan berlanjut. Pernikahan yang dulu sering mereka bayangkan serasa sulit tercapai.

“Aku belum siap,” kata Ara suatu sore di sebuah kafe. “Masih banyak yang belum aku capai, impianku bukan hanya sekadar menikah.”

Sena Menunduk lesu, meski dadanya berdenyut. Ia mencintai Ara, dan cinta seringkali membuat seseorang rela menunggu—bahkan ketika tak ada kepastian tujuannya akan bertualang.

Sampai akhirnya, retakan yang samar itu pecahan yang agaknya sulit diperbaiki.

Babak 2: Hari Tanpa Pegangan

Perpisahan tanpa drama besar. Tak ada suara meninggi, tak ada air mata yang tumpah di tempat umum. Hanya percakapan panjang yang berakhir dengan keheningan. Kehangatan berubah drastis menjadi dingin

“Aku rasa kita perlu berhenti,” kata Ara pelan.

Sena menatapnya lama. “Berhenti… atau berpisah?”

Ara menunduk. “Berpisah.”

Matahari sore itu menghangatkan, namun tidak bagi mereka berdua. Percakapan dingin itu menjadi awal perpisahan mereka. Hari-hari setelahnya terasa seperti perahu tanpa kompas. Pagi Sena sepi tanpa pesan selamat pagi. Tidur malam tanpa ucapan selamat tidur di ujung telepon.

Ia mencoba mengisi kekosongan dengan pekerjaan sampingan, kebetulan Sena adalah lulusan sastra di Universitas ternama, ia hobi menulis, hobinya terkadang menjadi pelarian dari keramaian di kepalanya.  Menyusun cerita fiksi nan indah sementara kisahnya sendiri berantakan. 

Ia mencoba menulis untuk surat kabar harian, menjadi pekerja harian lepas di sebuah perusahaan koran yang tidak terlalu besar di kotanya. Berharap kekosongannya segera terisi dengan kesibukan. Menyembuhkan luka yang berpendar, terpatri dalam pikiran.

Teman-temannya tau ada yang tidak biasa dengan perilaku Sena akhir-akhir ini,mereka mencoba menghibur, dengan mengajak Sena ke kedai kopi di sudut kota tempat biasa mereka menikmati secangkir kopi yang diseduh manual. Arabika gayo, minuman favorit Sena pelepas penat yang biasa ia pesan pun tak mampu menjadi alasan kuat untuk mengiyakan ajakan teman-temannya. 

Tak jarang tiap ajakan selalu  ditolak oleh Sena, tanpa tau jelasnya mengapa. Ia lebih suka menyendiri, keliling kota dengan motor antik peninggalan bapaknya, membiarkan pikirannya tercecer di jalan, terbang disapu angin.

Di suatu sore, ia duduk di tepi sungai kota. Airnya keruh, namun arusnya tenang. Angin berembus lembut, menyapu helai rambut melewati telinganya, seakan ada yang berbisik kepadanya. Lalu ia teringat sebuah judul buku yang pernah ia baca: “Di Sudut Dermaga”, cerita sebuah kisah tempat kapal bersandar dan berlindung dari badai. Tempat berhenti sejenak, mengisi bahan bakar lalu kembali berlayar. Tetapi semua itu bukan tentang 'dermaga'

Tatapannya jauh, kosong tapi terdengar ramai di kepala, diamnya seakan bersuara.

"Kemana aku akan berlabuh".

Babak 3: Kota yang Terasa Asing

Meski tinggal di kota yang sama selama bertahun-tahun, Sena merasa seperti orang asing. Tempat-tempat yang dulu ia kunjungi bersama Ara kini terasa berat untuk didatangi.

Ia memutuskan pindah kos. Bukan karena tempat lama buruk, tapi karena setiap sudutnya menyimpan kenangan.

Kos baru itu sederhana, dekat dengan sebuah perpustakaan kecil dan taman kota. Lingkungannya lebih tenang. Di sanalah Sena mulai membangun rutinitas baru.

Setiap pagi, ia berjalan ke taman, duduk di bangku kayu, dan membaca. Bukan untuk lari dari rasa sakit, melainkan mencoba berdamai dengannya.

Suatu pagi, hujan rintik turun. Sena tetap duduk, membiarkan gerimis membasahi jaketnya. Ia tidak menyadari seseorang berdiri di sampingnya sampai suara lembut menyapa.

“Mas, kalau hujan, bangku ini licin. Hati-hati.”

Sena menoleh. Seorang wanita berdiri sambil memegang payung biru tua. Senyumnya sederhana, matanya hangat.

“Oh, iya. Terima kasih,” jawab Sena kikuk.

Wanita itu mengangguk lalu pergi. Singkat, biasa saja. Namun entah mengapa, pagi itu terasa sedikit lebih ringan.

Babak 4: Pertemuan yang Berulang

Beberapa hari kemudian, Sena kembali bertemu wanita berpayung biru itu di perpustakaan kecil dekat taman kota. Ia duduk di meja baca, membuka buku 'Filosofi Teras'.

“Kita ketemu lagi,” kata wanita itu sambil tersenyum.

Sena mengangguk. “Iya. Sepertinya kita punya rute yang sama.”

Wanita itu tertawa kecil. “Mungkin.”

Perempuan payung biru itu bernama Aruna. Ia bekerja sebagai pustakawan paruh waktu sambil menyelesaikan studi pascasarjana. Percakapan mereka mengalir ringan—tentang buku, hujan, dan kota S yang sering terasa berlalu cepat.

Sena tidak langsung merasakan hal aneh atau apapun selayaknya laki-laki kasmaran. Yang ia rasakan hanyalah kenyamanan. Sesuatu yang lama hilang.

Mereka mulai sering bertemu. Kadang hanya menyapa singkat, kadang berbincang lama. Aruna tidak pernah memaksa Sena bercerita, namun kehadirannya seperti ruang aman. Dan tanpa sadar, Sena mulai menunggu pertemuan-pertemuan itu.

Babak 5: Luka yang Perlahan Terbuka

Suatu sore, mereka duduk di taman. Langit mendung, namun tak hujan. Sena menatap pepohonan, sementara Aruna membaca.

“Boleh tanya sesuatu?” kata Aruna pelan.

Sena mengangguk.

“Kamu terlihat seperti seseorang yang sedang belajar berdiri lagi,” ucap Aruna hati-hati.

Kalimat itu menusuk, namun dengan cara yang lembut.

Sena terdiam lama. Lalu ia bercerita. Tentang Ara, tentang patah hatinya, tentang rasa kehilangan yang belum sepenuhnya sembuh.

Aruna mendengarkan tanpa menyela.

“Patah hati itu seperti kapal rusak,” kata Aruna akhirnya. “Bukan berarti tidak bisa berlayar lagi. Kadang, kapal hanya butuh kade untuk diperbaiki. Selebihnya kapal itu akan kembali berlayar. ”

Sena tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada kehangatan yang kembali merengkuhnya.

Babak 6: Belajar Tidak Terburu-buru

Hubungan Sena dan Aruna berkembang perlahan. Tidak ada status, tidak ada janji. Mereka berjalan berdampingan, masing-masing dengan luka yang dihormati.

Sena belajar bahwa mencintai tidak harus terburu-buru. Aruna mengajarkannya dengan sikapnya yang tenang.

Mereka berbagi cerita kecil: kegagalan, mimpi, dan ketakutan. Sena kembali menulis—bukan untuk pekerjaan, tapi untuk dirinya sendiri.

Suatu malam, Sena menulis tentang kade. Tentang tempat berlabuh yang bukan sekadar menumpang bersandar, melainkan makna pulang yang seharusnya, menambal luka perjalan sebelumnya, menavigasi ulang kompas.

Ia menyadari, Aruna bukan pengganti Ara. Ia adalah babak baru perjalanannya.

Babak 7: Ombak Masa Lalu

Masa lalu jarang pergi tanpa pamit. Suatu hari, Sena bertemu Ara secara tak sengaja di sebuah acara literasi.

Mereka saling menyapa canggung. Ara terlihat bahagia, namun ada jarak yang tak bisa dijembatani. Sena terpaku, mencengkeram gelas ditangannya. Seolah ada yang belum selesai diantara mereka. Pertemuan itu hampir saja merobohkan dinding pembatas yang selama ini susah payah dibangun oleh Sena. Menguak kembali momen tersial sore itu.

“Senang lihat kamu baik-baik saja,” kata Ara.

“Terima kasih,” jawab Sena tulus.

Pertemuan itu tidak melukai Sena seperti yang ia kira. Justru menguatkan dinding pembatas  yang ia bangun dengan luka.

Malamnya, ia bertemu Aruna dan menceritakan semuanya.

“Aku nggak marah,” kata Aruna. “Masa lalu adalah bagian dari perjalanan. Ia adalah guru bagi Sena yang sekarang ku kenal”

Sena menatapnya lama. Di sanalah ia tahu, hatinya mulai benar-benar berlabuh.

Babak 8: Menyebut Nama dengan Perasaan

Sena bergegas sembari mengetik pesan di gawainya, ia tak boleh telat. Membuka pintu pagar, lalu menyela motor tuanya dan tancap gas. Sena terburu-buru karena Aruna sudah menunggu di taman kota. Melalui tiap blok jalan dan beberapa tikungan. Sampainya di taman ia langsung lari seperti maling ayam.

“Maaf aku terlambat”, ucap Sena dengan keringat dan napas sengal.
“Seperti biasa, bukan”, Aruna satir dengan senyum manis.

Sena hanya bisa menatap dan senyum tersipu. Mereka berbincang banyak hal dari obrolan ringan sampai perbincangan fantasi mereka bahas. Dari obrolan buku apa saja yang suka mereka baca sampai kehebohan munculnya kura-kura purba di kota M.

Tak terasa hari sudah mulai gelap dan Sena mulai karut seperti memendam sesuatu. Perasaan itu akhirnya diucapkan di bawah lampu taman yang temaram.

“Aruna,” kata Sena gugup, “aku nggak tahu kapan tepatnya, tapi… aku nyaman sama kamu.”

Aruna tersenyum. “Aku juga.”

Tidak ada ledakan emosi, hanya ketenangan yang hangat. Mereka resmi berjalan bersama. Bukan jingga di tepi pantai atau gemerlap bintang diatas bukit. Hanya disaksikan pepohanan yang tidak begitu rindang dan langit oranye keunguan di jantung kota.

Hubungan itu dibangun dengan komunikasi dan kesabaran. Mereka saling tumbuh, bukan saling menuntut. Mereka saling menghormati satu sama lain, dari awal bertemu ego mereka jatuhkan serendah-rendahnya. Kerasnya kepala saling dicairkan. Awal yang indah dan banyak diidamkan orang-orang.

Mulai sore itu, Sena belajar mencintai tanpa takut kehilangan. Aruna belajar mempercayai tanpa ragu.

Babak 9: Kade yang Diperjuangkan

Tahun-tahun berlalu. Sena dan Aruna kerap menghadapi tantangan dalam hubungannya. Mulai dari perbedaan pendapat, jarak yang memisahkan mereka sementara karena studi Aruna di kota J, dan tekanan hidup karena wabah pandemi. Sena sempat tidak ada pemasukan karena semua tulisannya untuk surat kabar hold.

Berita tentang pandemi dan politik di tengah wabah lebih diprioritaskan oleh perusahaannya ketimbang cerpen milik Sena yang kerap mengisi sebagian sudut koran. Namun setiap masalah mereka hadapi sebagai tim. Sebagai pasangan yang supportif. Saling peduli dan saling percaya adalah kunci mereka menjalani hubungan.

4 tahun Sena menunggu Aruna pulang ke kota S, meskipun kerap berkabar lewat pesan singkat dan telepon video selalu ada tatapan yang mereka rindukan. Sepulang Aruna ke kota S, Sena mengirim pesan ke Aruna untuk datang ke taman kota tempat mereka sering bertemu.

Sena menunggu, resah, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia menatap pepohonan disekitar, angin berembus sejuk namun keringat jatuh ke pelipisnya. Lalu ia menatap benda yang ia genggam dengan harapan Aruna akan senang menerimanya.

Sosok yang ia tunggu akhirnya muncul dari kejauhan, Aruna berjalan mengenakan dress putih dan sepatu kets. Kepalanya dihiasi bandana yang menambah keanggunannya. Sena terpaku kekasihnya yang jarang ia temui beberapa tahun belakang tampil memukau. Taman itu terasa sepi seakan semua orang di dalamnya mengilang.

Sena menatap Aruna,lututnya menyentuh tanah menjadi tiang pengukuh dari badannya yang gemetar sejak datang, merogoh saku kirinya mengeluarkan benda yang sedari tadi ia genggam sebelum Aruna datang. Sena melamar Aruna di tempat pertama kali dan sering bersua.

“Kalau hidup ini seperti laut, aku akan lelah bertualang” kata Sena, “aku ingin berlabuh di kamu.”

Aruna menitikkan air mata. “Aku mau.”

Babak 10: Tempat Pulang

Sena menatap dirinya di depan cermin, pria yang biasa dengan kaos belel, jaket dan celana jeans terlihat rapih dan tampan kali ini. Rambutnya yang gondrong nanggung kali ini terlihat seperti orang kantoran yang hendak berkat kerja.

“Aku bangga padamu bisa melalui semua ini”. Gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana namun hangat. Bukan di gedung hotel bintang, bukan di venue outdoor impian, melainkan hanya sebuah resto makan yang disulap dalam satu malam untuk sekadar merayakan dengan orang-orang terdekat. Di antara tamu dan doa, Sena merasakan kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Jantungnya berdebar kencang, tangan telah dijabat. Penghulu mengucap sumpah yang harus ditunaikan saat itu juga. Disusul dengan Sena, suaranya terdengar parau tapi tegas. Ia tak pernah ragu akan setiap keputusannya memperistri perempuannya. Aruna adalah kade baginya, ia ingin selalu menjadi rumah bagi Aruna, menjadi tempat untuk pulang begitupun sebaliknya.

“Sah”, tamu mengucap serentak. Doa dipanjatkan, setiap tangan yang mengadah berharap menjadi berkah bagi perjalan rumah tangga Sena dan Aruna.

Sena sempatkan melirik ke arah Aruna yang kini telah menjadi istrinya, bulir air berlapis kebahagiaan jatuh. 

"Aku mencintaimu, sampai kapanpun akan tetap seperti itu". batinnya.

Di malam pertama sebagai suami istri, hujan turun pelan. Sena dan Aruna saling menatap, menjejakkan kepalanya di atas bantal.

Sena menatap Aruna. “Terima kasih sudah jadi kade-ku.”

Aruna tersenyum. “Terima kasih sudah berani berlayar lagi.”

Di luar, hujan terus turun. Namun di dalam, dua hati telah menemukan tempat berlabuh. Kini Sena tidak harus berlayar sendirian, Aruna adalah istri, rekan, sekaligus teman untuk ia memulai pelayaran baru. Aruna tidak hanya sekadar kade untuk bersandar, untuk pulang, ia juga menjadi kompas untuk perjalanan.

Epilog

Beberapa tahun kemudian, Sena menyelesaikan tulisannya dan menerbitkan buku berjudul “Kade”. Di halaman pertama, ia menulis:

"Untuk mereka yang patah hati—percayalah, perjalananmu akan selalu menemukan tempat untuk berlabuh".

Ia menutup buku itu, menatap Aruna yang tertidur di sampingnya. Sejatinya ia benar-benar punya tempat pulang.

Komentar

Postingan Populer