RAPUH


***

Sesuatu yang datang, pada masanya akan pergi. Sama seperti rasa yang selama ini pernah kita miliki. Ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai, menjadikan diri seperti orang yang kehilangan segalanya.

Saat merasa telah nyaman menemukan tempat untuk menetap, ia pergi meninggalkanmu sendiri untuk meratap. Ikhlas mungkin rasa yang tepat untuk tidak menyesali semua perjalanan dan proses agar menjadikanku menemukan sosok jati diri.
Seolah jika aku tidak menangisinya tidak ada yang bisa membuat bibirku menyunggingkan senyum.

Terus memikirkannya bukan berarti membuat diriku tidak bisa merasakan jatuh hati kembali. Setiap orang bisa menggunakan berbagai cara yang berbeda untuk mengindahkan yang namanya cinta dan memulai petualangan baru dengan seseorang yang baru. Namun nyatanya tidak se-klise itu.

Butuh sedikit kesabaran dan perlu menggauli waktu yang bisa diajak berkawan untuk momen yang setidaknya sedikit lebih tepat. untuk kita belajar dari pengalaman yang membuatmu berada ditempat yang tidak ingin dijelajahi.
Biarkan momen itu datang dan jangan sekali-sekali menghakimi apa yang akan terjadi setelahnya.

***

Apa yang pergi sebelumnya, biarlah pada tempatnya. Nyatanya ia selalu punya rutinitas dan bahagianya sendiri. Ujung-ujungnya yang dirasakan adalah sebuah penantian dengan penuh pengharapan. 

Biasanya, saat langit mulai gelap akan muncul pikiran yang mengganggu, mengira-ngira sampai kapan diri ini harus menunggu. Bertanya-tanya dan bercakap dengan diri sendiri sedang apa kamu disana, cuma sekadar memastikan dirimu baik-baik saja.

Sesekali, jemari meracau dan lancang masuk laman media sosial. sekadar iseng. apa yang kamu sedang kerjakan hari ini. Sampai pada hal yang mungkin hampir semua orang tidak ingin tahu dengan perasaan yang sama. 

Sebuah potrait seorang lelaki yang dahulunya itu adalah Aku, bukan tidak sengaja telah digantikan olehnya. Sedih sekali , tidak juga. Sedikit kesal, ada. Terlalu picik sebagai manusia jika patah hati malah menjadikanmu orang yang munafik. Membenci segala realita yang dihadapi dan menganggap hanya sebuah iklan koran yang selalu ada namun hanya dilewatkan. 

Menurutku, melakukan perjalanan patah hati tidak melulu tentang kesedihan. Kita bisa mencari identitas yang sebelumnya hilang dari dirimu. Identitas diri yang pernah kamu biarkan dalam perasingan. Sampai-sampai orang disekitarmu pernah menganggapmu bukan sepenuhnya dirimu. Pergi berkencan dengan hobi dan mengejar mimpi-mimpimu yang pernah tertunda setidaknya akan perlahan mendistraksi pikiranmu terhadapnya.

***

Tutup mata, tutup telinga dan menganggap semua ini masih ada dalam kendali. Nyatanya, tidak semua di dunia ini bisa dalam kendalimu. Biarkan ia menjalani hari-harinya dengan kendalinya sendiri, hidupnya adalah seutuhnya miliknya, milik Tuhannya, dan milik orang-orang disekitarnya. Dan itu tidak termasuk dirimu. Sedangkan dirimu adalah salah satu dari sekian miliar kemungkinan yang pernah punya kesempatan kendali atas hidupnya.

Untuk saat ini, biarkan kita menikmati tempat kita masing-masing, kamu dengan rumahmu tempat ternyaman dan damai yang saat ini sedang kamu tempati. Sedangkan aku, dengan sejuta petualanganku dan masih mencoba meraba tujuan, mencari tempat untuk tinggal. Pada akhirnya, kita hanyalah sepasang saling yang berubah menjadi asing.

***

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer