DIORAMA ROMANTIKA

***

'Denganmu, bermain peran adalah suatu tragedi yang pelik'

***

Seperti biasa, tidurku dibangunkan oleh dering alarm yang sudah ku setel malamnya. pagi itu aku bangun, masih setengah sadar aku masuk dalam lamunan. Membayangkan sore itu, masih jelas melekat dikepala. Tidak bisa dijelaskan romantika apa yang sedang terjadi. Yang jelas, itu menyenangkan.

Secepat mungkin aku buyarkan lamunanku, lagi-lagi aku dikejar waktu seperti maling ayam yang kepergok warga. Jika aku diberi satu saja permintaan ataupun kekuatan super, mungkin aku memilih ingin mngendalikan waktu. Dimana setiap manusia tidak perlu tergesah-gesah dengan rutinitasnya, untukku kemungkinan aku ingin mengubah waktu agar bisa diulang atau bahkan berjalan lambat ketika kita saling bercakap dan mata kita saling menatap. 

Aku bisa menatapmu sedikit lebih lama, dengan begitu matamu yang hitam berbinar akan terlihat nampak lebih pekat dari apa yang aku ekspektasi kan. Bangunlah! Realita adalah sebuah fakta yang sudah dipatri oleh Tuhan diatas daun-daun surga, manusia hanyalah seorang aktor yang memainkan peran dari skenario-Nya.

Dari miliaran manusaia hanya diberi sedikit kebebasan berimprovisasi atas apa yang diperankannya. Berharap ending yang indah ataupun tidak hanya “Dia” yang mampu menentukan, Dia sosok sutradara kondang dari segala sutradara yang ada di bumi. Panggung-Nya tidak lebih besar dari sebutir biji sawi.

Setiap kisah yang Ia tulis tidak pernah sama, setiap karakter dalam kisah-Nya tidak pernah ditemukan pada film-film atau teater manapun, hanya saja watak dari setiap karakternya yang banyak berimprovisasi menjadikan jalan cerita seharunya sedikit lebih kompleks.

Dari semua drama-drama yang aku mainkan hingga sekarang, lagi-lagi hanya Ia terlebih dahulu yang mengetahuinya. Jika boleh memilih peran, aku ingin menjadi protagonis dalam kehidupanmu dan menjadi pangeran dalam drama Cinderella, atau bahkan menjadi pengembara tampan yang menyelamatkan Rapunzel dari kurungan menaranya.

Tetapi Ia hanya memperbolehkanku untuk  menjadi figuran yang datang untuk sementara mengisi kesedihanmu. Kau isi setiap sin dengan tangis dan ratapan, memberikan figuran ini sebuih harapan. Air mukamu menggambarkan itu hal yang wajar, menangisi apa yang tak bisa kau miliki sampai-sampai kau terjatuh karena berlari mengejar. Kau pikir dalam dramamu tidak ada aktor lain yang lebih memungkinkan untukmu memperoleh happy ending. Menurutku, kau saja yang belum terlalu berperasa dengan apa-apa saja yang ada disekitarmu.

***

Aku yakin pemeran utama juga berawal dari figuran. Mungkin bukan kebanyakan, tapi yang dimaksud setiap proses dan usaha keras pasti akan ada hasil yang sepadan. Aktor utama tidak akan jadi pemeran utama tanpa karena tanpa figuran sebuah diorama tak akan berjalan istimewa selayaknya drama nan megah.

Dioramamu adalah drama terumit yang pernah aku perankan, hanya orang-orang paham isi pikiranmu yang mafhum akan alur ceritanya, dan itu aku. Bermain drama denganmu suatu kebahagiaan yang tak pernah bisa ditulis oleh penulis manapun, tak bisa diatur oleh sineas manapun, bahkan tak bisa diperankan oleh aktor hebat sekelas Reza Rahardian atau Dian Sastro.

Setiap adegan kau mainkan dengan apik, setiap latar kau sajikan dengan indah. Setiap dialog yang kau ucapkan dengan merdu, setiap pelaku drama bahkan tak mampu menandingimu, kau hanya satu-satunya orang yang sempurna dalam memainkan segala drama menurutku. Air mukamu tak pernah terlihat kau sedang mengibuli para penonton.

Sampai-sampai aku dan orang-orang pun tak akan percaya segalanya hanya sebuah drama belaka, ada intrik di dalamnya. Berulang kali isi kepalaku meyakinkan ini hanyalah drama bukan realita, hanya saja aku tak mampu keluar dari semua ilusinya. Ijinkan aku keluar dari dongeng ini, kita ciptakan peran kita sendiri dalam realita bukan hanya panggung fana itu. Berlakon denganmu sepanjang hari, sampai kita lupa bagaimana cara berkespresi yang sesungguhnya dalam realita.  Sampai kita lupa bahwa kehidupan nyata itu tak pernah ada dan kita menjadikannya sebagai kehidupan paralel yang hanya ada di sebuah kisah sains fiksi.

Diorama membalikkan yang nyata menjadi fiksi dan fiksi menjadi nyata, atau sesungguhnya sebuah imajinasi belaka yang menjadikannya realita. Kata beberapa dari mereka, hidup harus seperti menonton drama, jika saja kau hanya terpaku pada episode terbaik selama ini kau tidak akan tahu bagaimana episode-episode selanjutnya. Dan kau tidak akan tahu akan seperti apa endingnya.

***


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer