PUTIH ABU-ABU





***

Sejuk udara pagi mengajakku untuk segera beranjak dari bunga tidurku. Dan mentari menyapa alam dengan pancaran sinarnya melalui cakrawala. Aku siapkan hari ku dengan memandang indah garis langit lalu ku sematkan doa agar hariku tak sukar dan berbelit-belit.
Tuhan telah memberiku kesempatan melihat indahnya menikmati hidup. Untuk memulai semua kisahku yang tak terurut. Karena di balik kisah redup, akan ada kebahagian yang mebuatnya larut. Tak ada alasan untuk ku mengucapkan kalimat syukur karena sudah di pertemukan dengan sebuah dimensi baru yang indahnya tak terukur.
Putih abu-abu adalah tempat dimana goresan pena memulai. mengajak ku mulai merasakan drama persahabatan dan kasmaran. Tatkala di hari pertamaku, aku merasa di wariskan sebuah anugerah oleh Tuhan karena telah di perlihatkan oleh paras cantik seorang wanita dan aku menamainya “KAU”.
Iya, kamu sosok perempuan bermata hitam binar dan rambut coklat bergelombang. Hati segera ingin menyapa tapi bimbang. Jantungku berdegub sangat kencang, meski hanya menatapmu dari kejauhan. Waktu terasa lambat ketika kamu berjalan di hadapan ku seraya mengurai rambut rindang mu.
***
“Hai”, aku tersentak setelah mendengar sayup sapamu yang tanpa permisi membuyarkan ekspektasi ku tentang mu. Salah tingkah aku di buatnya, obrolan yang kamu buka dengan sunggingan senyum tanpa sadar aku terdiam seraya menikmati indah paras mu.
Waktu saling mengejar obrolan singkat kita, tetapi ini dunia nyata, bukan fana yang bisa sesuka hatiku untuk merubah fakta. Perbincangan singkat itu setidaknya menjadi jembatan angan antara aku dan kau. Aku selalu menantikan kembali obrolan singkat yang selalu di akhiri oleh waktu yang berlarian.
Obrolan kita pun berlanjut dalam gadget, yang terlalu sering membuat kita lupa akan waktu yang terus meroda. Tanpa ada deretan angka yang hampir bisa di hitung dengan kedua jemari. Rutinitas baru ini berjalan hingga larut, saat pekat nya malam tak lagi terhiraukan. Karena muda mudi yang tengah kasmaran. Obrolan hari itu pun terhenti di ujung malam yang dingin dan sunyi.
Bulan dan bintang pun berkejaran dengan fajar, tak sadar keesokan hari itu aku harus pergi belajar. Belajar memikirkan seseorang yang baru aku jumpai, tanpa tau apakah dia juga memikirkan hal yang sama dengan pasti. Ku lakukan hal itu berulang-ulang sampai aku menemukan apa yang aku cari, apa yang aku inginkan, apa yang selama ini menciptakan kantung mata.
Aku mencari kamu, aku inginkan rasa sayang dan perhatian dari mu, dan obrolan malam hari yang mencipatakan mata panda. Senang bisa bertemu manusia setengah bidadari seperti mu.
***

Komentar

  1. menurutku ceritanya masih belum sempurna, mungkin bisa lebih panjang lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer